Suhba di Mina 1432 H


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)

Mina, Saudi Arabia

November 2011


Alhamdulillah Allah swt dengan berkah Sayyidina Muhammad (s) kita dapat menunaikan ibadah haji tahun ini.

[menata kembali tempat duduk, karena tidak ada mikrofon]

salam 'alaykum wa rahmatullahi wa barakutuh,

Setiap pertemuan mempunyai cita rasa tersendiri, dan setiap Ied mempunyai cita rasa tersendiri dan setiap haji mempunyai cita rasa tersendiri. Setiap Ramadan mempunyai cita rasa tersendiri; setiap donasi yang kita berikan di jalan Allah swt mempunyai cita rasa tersendiri, karena ibadah-ibadah itu membuat kalian merasa mendapat siraman (rohani), yang melegakan, tidak terbebani. Kalian merasa puas ketika kalian melakukan sesuatu yang diridai Allah.

[Mawlana, mereka tidak bisa mendengarmu.]

Tidak perlu bagi mereka untuk mendengar, hati mereka dapat mendengarnya.

Allah swt telah memberi kita lima siraman yang baik. Mereka ada lima tetapi dalam timbangannya mereka adalah lima puluh. Kelima ini, jika kalian memperhatikannya, setiap orang di dalam pikirannya akan mengatakan bahwa yang dimaksud adalah salat 5 waktu yang setara dengan 50. Tetapi lima yang dimaksud di sini adalah kalimat usy-syahada, salat, sawm, zakat, al-hajj. Inilah yang dimaksud lima di sini.

Masing-masing dari mereka adalah sebuah samudra yang luas. Orang-orang senang menyelam di samudra. Mengapa? Untuk melihat beragam ikan dan makhluk yang hidup di samudra itu.

Setiap samudra mengandung banyak elemen yang belum pernah diketemukan atau makhluk yang belum pernah diketemukan. Setiap saat mereka menemukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Bayangkan seluruh bumi ini—sebagian besar adalah samudra dan samudra-samudra ini ketika kalian pergi ke pantai dan kalian mengucapkan, "Allahu akbar, Allahu akbar!" Kalian melihat kebesaran Allah swt ketika kalian melihat pada ombak yang datang silih berganti tanpa henti.

Dan bukan hanya samudra yang mengirimkan ombaknya tetapi ada juga suara yang datang bersama ombak itu, deru ombak. Kalian dapat mendengar deru ombak yang datang, datang, datang dan kalian merasa takjub dengan deru itu, karena ia tidak pernah berhenti. Siapa yang membuat ombak ini datang ke pantai dan memberikan suara itu? Kekuatan macam apa yang memberikan gerakan secara konstan dan tak pernah berhenti itu? Bahan bakar macam apa, kekuatan macam apa? Dan makhluk-makhluk yang berada di dalam samudra ini mempunyai jalannya masing-masing, segala jenis binatang, mereka mempunyai suara yang berbeda-beda dan tidak ada satu pun suara yang menyalip suara lainnya.

Di sini kalian melihat `azhamatallah, Keagungan Allah. Ada berapa samudra di sana? Lima. Lima samudra besar. Mengapa ada lima? Karena seperti yang kami katakan di awal, Allah telah memberi kita lima salat yang berbeda, dan lima pilar yang berbeda yang masing-masing seperti kelima samudra ini. Setiap pilar bagaikan sebuah samudra, samudra ilmu yang tak pernah berakhir. Dan sebagaimana samudra mempunyai beragam binatang di dalamnya, begitu juga samudra macam apa di dalam pilar syahadat, apa yang kita temukan? Jika kita mengucapkan syahadat: asy-hadu an la ilaha ill 'Llah wa asy-hadu anna Muhammad Rasulullah (s), di mana kita menyelami samudra itu, apakah di bagian dasar di mana tidak seorang pun yang dapat mencapainya kecuali dengan kapal selam? Allah akan memberi kalian sebuah kapal selam yang membuat kalian mampu menyelam hingga ke tempat yang dalam di samudra syahadat sesuai dengan kapasitas kalian.

Dan ketika kalian menyelam di dalam samudra, kalian akan menemukan lebih banyak dan lebih banyak lagi. Kalian mulai di permukaan seperti anak-anak yang mulai berenang. Kamudian kalian mulai masuk ke dalam air, kalian mulai menyelam dan menyelam dan Allah Maha mengetahui apa yang Dia bukakan ke dalam kalbu kalian dan Nabi (s) menyaksikan apa yang Allah berikan kepada kalian karena beliau akan menjadi saksi bagi semua `abd di Yaumil Hisab terhadap apa yang hamba itu saksikan.

Jadi gerakan di alam semesta ini adalah ... syahadat.

Kita mengucapkannya seperti itu [begitu sederhana] asy-hadu an la ilaha ill 'Llah wa asy-hadu anna Muhammad Rasulullah (s) tetapi apakah menurut kalian sebuah samudra mempunyai awal atau akhir? Syahadat adalah deklarasi penyaksian Maqam al-wahdaniyya dan Maqam al-ahadiyya, Keesaan Allah.

Jika kalian mengatakan bahwa ilmu tentang syahadat telah berhenti maka kalian merendahkan kebesaran dan kekuasaan Allah swt.

[`Ali menerjemahkan Ahadiyya sebagai Keunikan/Kekhasan] Allah tidak mempunyai bandingan, karena Dia adalah Sang Pencipta. Sayyidina Muhammad (s) adalah hamba terbaik bagi Allah. Tidak ada kesatuan, yang ada adalah Keesaan. Tidak ada kesatuan antara ciptaan dengan Sang Pencipta.

Jadi kita akan menyelam ketika kita mengucapkan syahadat, kita menyelam lebih dalam dan lebih dalam lagi ke dalam ilmu yang tak pernah berakhir ini.

Jadi samudra setelah syahadat, apa yang datang? Salat, wa iqamus-salat. Allah memberi 5 salat yang berbeda, dan masing-masing mempunyai cita rasa tersendiri. Kalian salat Subuh dan itu adalah sebuah samudra dan kalian akan disandangkan dengannya. Allah tidak seperti kita. Ketika Dia, al-Kariim, Yang Maha Pemurah, menyandangkan kalian ketika kalian melaksanakan salat Subuh, Dia akan menyandangkan kalian dengan samudra yang berbeda dengan salat berikutnya, yaitu Zhuhur; kemudian salat berikutnya, samudra lainnya. Setiap hari yang diberikan adalah samudra baru dan asli. Tidak ada mesin foto copy. Allah membuka bagi orang yang menyelesam di dalam samudra salat.

Jadi bila kalian mulai melakukan salat pada usia 7 tahun sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi (s), “alalma awladakum ash-shalat..” pada usia tujuh tahun. Jadi ketika kalian mencapai usia 40 tahun, itu berarti 33 tahun salat, ada berapa hari? Dikalikan dengan 365 sekitar 500,000 dan dikalikan dengan 5 dan itu berarti 2.5 juta samudra yang telah disandangkan pada kalian dari salat dan ini adalah pelangi ilmu yang dapat dilihat oleh kalbu. Akal tidak dapat melihatnya. Akal bekerja dengan mata, telinga dan dengan otak.

Kalbu/jantung berdegup, ada dokter jantung di sini. Bagaimana bunyi degupnya? Huuu, Huuu, Huuu. Apakah Huwa itu? Yang benar-benar tidak diketahui, Allah. Jadi kalbu itu mengucapkan Huwa, Huwa Allah. Qul huw Allah. Nama Huwa itu adalah Zat yang benar-benar tidak diketahui. Kalian mengenal-Nya dengan Nama Allah, tetapi kalbu berdegup dengan mengucapkan nama Huwa, berusaha untuk masuk ke dalam dan disandangkan dengan busana yang berbeda-beda yang telah disandangkan pada nama Huwa itu.

Mari kita mengoreksi: 365 x 33 x 5 adalah sekitar 60,000 tetapi dikalikan dengan 50 karena setiap salat adalah 50, maka itu adalah 2.5 juta.

Jadi bayangkan ada 2.5 juta busana surgawi, setiap kali kalian mengucapkan Allahu akbar, kalian menerima satu busana. Jadi bagaimana kalian akan tampil pada Yawmil Hisab? Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda bahwa Muslim pada Yawmil Hisab akan bersinar seperti bintang-gemintang di dalam malam yang gelap.

Jika kita teruskan, maka setelah itu adalah itaauz-zakat, bila kalian membayar zakat, termasuk: zakat [al-mal], zakat al-fitr, sadaqah, hibbah, hadiah. Ada lima bentuk donasi. Kita ulangi: ada zakat, zakat al-fitr, sadaqa, hibbah, dan hadiah.

Jadi pada setiap orang Allah menyandangkan busana yang istimewa. Seberapa kalian akan merasa bahagia, seperti kemarin, ketika kita keluar dari Haram, dan Shawkat memberi saya 100 riyal dan berkata, “Bagikan.” Jadi saya berkata, “Dibagikan kepada siapa?” Jadi saya berikan kepada salah seorang yang mengepel di sini. Ia mengambilnya dan begitu bahagia dan berdoa untuk kita dalam berbagai bahasa dan berkata semoga Allah memberi balasan bagimu, semoga Allah memanjangkan umurmu.” Seberapa Allah akan senang ketika kalian membuat hamba-Nya bahagia, khususnya orang yang memerlukan bantuan? Dan berapa banyak kalian memberinya? 3 riyal. Itulah yang membuatnya begitu bahagia.

Di Amerika 3 riyal adalah hampir 1 dolar. 1 dolar bagi kalian adalah bukan apa-apa. Kalian bahkan tidak merasa puas bila memberikannya kepada seseorang. Kalian ingin memberinya 5 dolar. Bahkan makan di restoran kalian akan memberikan tip 20%.

Di sini kalian memberi 3 riyal dan itu membuat mereka begitu bahagia. Dan begitu kita memberinya, banyak lagi yang datang dan meminta, dan masing-masing mendapat 3 riyal. Dan mereka begitu bahagia. Dan itu tidak lebih dari 33 dolar. 3 riyal itu membuat 33 orang bahagia. Seberapa besar Allah akan membuat kalian bahagia dengan sedekah kalian dan begitu pula dengan zakat al-fitr kalian, atau sama halnya dengan hadiah kalian demi Allah dan Dia akan menyandangkan kalian dengan apa yang Dia sandangkan kepada kalian dengan salat kalian tetapi kali ini dengan busana yang berhubungan dengan sedekah, bukannya salat, dan masing-masing [bentuk ibadah] mempunyai sandangan yang berbeda.

Dan setiap sandangan itu adalah busana yang berbeda. Itu menjadi busana yang berbeda seperti halnya pelangi pada donasi yang istimewa itu dan pada Yawmil Hisab, kalian akan tampil sebagai sebuah bintang dari sedekah kalian, berdasarkan seberapa besar donasi yang kalian berikan.

Setelah kita selesai pada Jabal ar-rahmat, pada hari Jumat, dan mereka mendorong saya pada kursi roda, seseorang datang, bukan pada hari Jumat, tetapi Sabtu, dan itu sangat padat di dekat banyak bus. Seseorang tiba-tiba datang dan berbisik di telinga saya, mengapa dia memilih saya, bukannya yang lain. Ia berkata, “Ya Syekh, aku tertahan di sini dan aku mempunyai masalah besar.” Ia berkata, “Aku tertahan dengan istriku di sini. Aku mempunyai masalah dengan maskapai penerbangan dan mereka ingin mengubah tiket kami. Mereka menginginkan 2000 riyal dan aku tidak mempunyai uang sepeser pun. Aku bicara dengan mereka untuk menguranginya dan akhirnya mereka menurunkannya hingga 420 riyal. Berapapun yang dapat kau berikan, Allah swt akan membalasnya dan menggantinya untukmu.”

Itu bukanlah orang sembarangan. Ia berasal dari kelompok itu, mereka mengirimkannya sebagai ujian. Karena itu terjadi setelah selesainya Arafat dan kalian harus pergi keluar. Mereka menguji kalian apa yang akan kalian lakukan. Itulah sebabnya ia berkata, “Berapapun yang ingin kau berikan, berikanlah.” Mereka ingin melihat apakah kalian akan memberikan semuanya atau kalian memberi 10 riyal atau 20 riyal.

Saya mengerti bahwa mereka mengirimkan wali itu yang bertanggung jawab di Arafat bagi semua hujjaj untuk mengecek kita. Dengan segera tanpa banyak tanya, saya memberinya 500 riyal. Ia mencium tangan saya dan kemudian menghilang. Dan seseorang menariknya [dari saya] dan saya katakan, “Berhenti!”

Jadi, kalian tidak tahu apa yang akan kalian hadapi. Itulah sebabnya Grandsyekh biasa membawa uang kecil di kantungnya. Kalian tidak tahu bagaimana seseorang akan meminta kepada kalian dan mereka mungkin akan datang dalam bentuk yang tidak kalian sukai. Jangan katakan, “Orang itu akan memakainya untuk ini atau itu [di jalan yang buruk].” Berikan saja demi Allah.

Jadi semua sedekah ini mempunyai cita rasanya masing-masing. Jadi puasa juga mempunyai cita rasa yang berbeda. Jadi Allah memberi 3 samudra cita rasa besar di bulan Ramadan. Sepuluh hari pertama adalah rahmat, yang pertama untuk memberkati kalian. Ketika Dia mengatakan rahmat, apakah artinya? Itu artinya Dia memberi kalian kebahagiaan untuk bersama dengan Sayyidina Muhammad (s) karena beliau adalah rahamatan lil-`alamiin. Siapakah ar-rahmat? Sayyidina Muhammad (s) adalah ar-rahmat al-muhdaat, yang dikaruniai rahmat. Allah mengaruniai Sayyidina Muhammad (s) sebagai rahmatan lil-`alamiin. Jadi dari rahmat ke maghfirah, setelah rahmat dari Nabi (s), kalian mendapat maghfirah dari Allah dan kemudian kalian menuju 10 hari ketiga dan itu adalah itqan min an-nar, pembebasan dari api neraka.

Maka setiap [bentuk ibadah] ini mempunyai cita rasanya sendiri.

Berikutnya adalah haji. Itu adalah satu, karena Allah adalah satu dan Baytullah adalah satu, Rumah Allah adalah satu di bumi. Ketika kita datang, kita datang ke Rumah-Nya. Apakah Dia akan mengusir kalian dari Rumah-Nya? Jika Dia tidak mengundang kalian, dapatkah kalian datang ke Rumah-Nya? Jadi bayangkanlah jika kalian adalah tamu-tamu Allah. Apa yang akan diberikan oleh Allah kepada kalian sebagai tamu-Nya? Itu mencakup seluruh samudra dari awal hingga akhir. Itulah sebabnya Dia memerintahkan kita untuk salat menghadap Ka`ba, karena salat mencakup kelima rukun Islam, salat ada di dalam kelima rukun tersebut.

Itulah sebabnya Dia memerintahkan kalian untuk salat menghadap Ka`ba. Artinya, “Kamu dan semua yang Kuberikan kepadamu datang kepada-Ku sebagai tamu lima kali.” Dan ketika salat, kalian harus menghadap Ka`ba. Pada puasa kalian tidak menghadap ke Ka`ba; di dalam zakat kalian tidak perlu menghadap Ka`ba dan ketika melakukan syahadat, kalian juga tidak menghadap Ka`ba, tetapi untuk salat, kalian harus menghadap Ka`ba karena ia terkandung di dalam semua rukun (Islam) lainnya.

Dia mengundang kalian lima kali. Lihatlah pada Kemurahan-Nya! Dia berfirman, “Datanglah ke Rumah-Ku lima kali.” Lalu kita berkata, “Oh, kami tidak menginginkan undangan-Mu.” Sehingga orang-orang bukannya salat tetapi mereka memenuhi undangan Setan ke rumahnya. Mereka berpaling dari Rumah Allah menuju rumahnya Setan.

Jadi di dalam salat ada syahadat. Apakah ada syahadat di sana; apakah ada puasa di dalam salat? [ya]. Apakah ada sedekah/zakat di dalam salat? [ya]. Apakah ada haji di sana? [ya] Mereka semua terkandung di dalam salat.

Di dalam salat, ada syahadat, yaitu ketika at-tahiyyaat. Ketika kalian salat, kalian tidak bisa makan, jadi itu adalah puasa. Ketika kalian salat, kalian memberikan sedekah karena kalian menggunakan waktu kalian, karena bila kalian bekerja, kalian memperoleh uang. Jadi, kalian memberikan sedekah dengan waktu kalian yang kalian berikan kepada Allah. Dan akhirnya kalian menghadapkan wajah kalian ke Ka`ba, setiap waktu. Jangan berpikir bahwa Allah swt tidak akan memberi pahala bagi kalian, Dia akan memberikan pahala pada kalian sesuai dengan Kebesaran-Nya di mana Dia membuat setiap salat kalian sama dengan haji.

Setiap salat adalah haji, jika salat itu sempurna. Dan setiap salat, [sebagaimana yang kami katakan] termasuk rukun (Islam) lainnya, akan menjadi sandangan yang berbeda yang akan datang dengan segala sesuatunya, termasuk: syahadat, salat, zakat, siyam dan haji. Itulah sebabnya Nabi (s) menyebutkan dan menekankan agar kalian mengajarkan anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berusia 7 tahun. Itulah sebabnya ia begitu penting. Dan beliau bersabda, “Bayn al-kufr wa'l-iman tarku'sh-shalat – bahwa antara kufur dan iman adalah meninggalkan salat.” Jika kalian meninggalkan salat kalian, atau tidak salat secara terartur, kalian antara kufr dan iman tetapi bila kalian meninggalkannya sepenuhnya, kalian berada pada sisi kufr.

Jadi semua sandangan ini telah Allah swt [siapkan untuk kalian] ketika Dia di Hari Perjanjian, ketika Dia bertanya pada setiap orang, “Alastu bi-rabbikum,” Dia bertanya, “Apakah Aku Tuhanmu?” dan Dia bertanya, “Siapakah kalian?” Dan kita berkata, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu” dan kita berjanji pada Hari itu untuk melakukan semua [kewajiban] ibadah kita.

Jadi Allah swt memberi pahala bagi setiap orang karena pada saat itu semua orang mengatakan, “Ya.” Jadi Dia memberi mereka sandangan ini dan ketika kita datang ke dunia, kalian disandangkan dengan busana-busana ini. Kita datang ke dunia dan sebagian orang salat dan sebagian lainnya tidak dan sebagian lagi berada di antaranya – kadang-kadang mereka salat, kadang-kadang tidak.

[Untuk memahami hal ini] itu seperti kalian mengatakan, “Aku mempunyai wakaf 1000 koin emas. Aku akan memberikan kepada tempat ini, yang penghuninya ada 1000 orang.” Jadi masing-masing mendapat 1 koin. Tetapi jika jumlahnya berkurang, dan hanya ada 100, maka Kemurahan Allah tidak pernah berkurang. Jadi Allah akan memberi 10 koin kepada masing-masing. Jika jumlahnya berkurang, maka masing-masing akan mendapat lebih banyak. Jadi semua sandangan dari maqam (spiritual) ini telah dikaruniai oleh Allah ketika kita mengatakan, “Ya” kepada Tuhan kita pada saat Hari Perjanjian. Jadi kebanyakan di dunia ini orang-orang mengerjakan lebih sedikit dari apa yang mereka janjikan sehingga mereka yang mengerjakan (ibadah) akan mendapat dua kali lipat atau tiga kali lipat dari apa yang mereka kerjakan. Jadi pahalanya akan menjadi sangat besar bagi apa yang dikerjakan oleh orang-orang.

Dan tahun ini, haji ini mempunyai cita rasanya tersendiri, yang belum pernah dibukakan sebelumnya dan cita rasa haji ini mengandung cita rasa dari setiap haji sebelumnya, sejak zaman Nabi (s) hingga sekarang, [dan itu] telah diakumulasikan dan diberikan kepada semua orang yang berdiri di Arafat.

Tahun lalu mereka mengakumulasi semuanya kecuali yang ini, dan tahun ini mereka mendapatkan semua tahun termasuk tahun lalu, dan tidak hanya itu, ini adalah “tahun VIP” bagi orang-orang yang menunaikan haji.

Allah adalah Allah. Ketika Dia memberi, jangan tanyakan, “Bagaimana” atau “Mengapa” Dia memberi. Ketika Dia memberi, Dia memberikannya. Ketika Dia tidak ingin memberi, itu tidak berarti bahwa Dia tidak senang dengan hamba tersebut. Tetapi ada hikmah lainnya yang terkait dengan hamba tersebut. Jadi sebagian orang mungkin mempunyai lebih banyak di dunia tetapi lebih sedikit di akhirat dan sebagian orang mungkin mempunyai banyak di akhirat tetapi sedikit di dunia. Seorang yang miskin bisa saja mempunyai surga yang tinggi atau…. Dialah yang menentukannya. Itulah sebabnya Nabi (s), bersabda, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau meninggalkan aku kepada egoku walau hanya sekejap mata.”

Jadi alhamdulillah bahwa kita datang pada tahun ini. Dan sebagaimana yang dikatakan oleh Mawlana, semoga Allah memberkatinya, “Haji tahun ini adalah hajj al-akbar, tetapi karena alasan tertentu para awliyaullah mendorongnya dan menjadikannya hari Sabtu.” Dan siapakah yang berada di sana pada hari itu? Awliyaullah. Dan siapa yang pergi ke sana untuk merasakan kehadiran itu, mereka juga berasal dari rijalullah, yang digambarkan oleh Allah swt di dalam kitab suci Al-Qur'an sebagai: rijalun sadaquu maa `ahaduullaha `alayhi. Mereka adalah dari tipe itu. Dan itulah sebabnya tahun ini mereka bersikeras untuk datang. Dan kita pun datang dan tiba di sini. Semoga Allah memberkati kalian dan semoga Allah mendukung kalian semua.

Fatiha.

[Mengenai melempar jamrah:

Ada dua cara. Kita harus melempar kerikil. Kita tidak bisa melemparnya sebelum zawal. Jadi bila kita melemparnya pada saat zawal, yaitu pukul 1, itu akan sangat ramai. Maka mereka akan kembali ke tenda, katakanlah pukul 3. Lalu kapan waktu pergi ke Mekah? Pergi pukul 3 dan kembali pada 3:30? Jadi kita tidak bisa.

Pilihan kedua adalah kalian bisa berangkat setelah tengah malam dan kembali ke Mekah, dan kembali seperti sekarang dan kembali pada 5:30 dan kemudian kalian bisa melempar hingga tengah malam. Lalu kalian kembali tengah malam lalu kembali dan kalian bisa melemparnya hingg tengah malam.

Jadi untuk melempar, kalian harus kembali. Mereka tidak bisa melempar sekarang tetapi nanti. Ini adalah berdasarkan mazhab Syafi’i. Tetapi kalian harus melempar, itu adalah salah satu rukun, jadi kalian harus menunjuk seseorang untuk melempar atas nama kalian dan kalian harus membayarnya, bukannya dum. Jadi yang muda bisa melempar mewakili mereka. Jadi pada hari terakhir mereka bisa melewatkannya jika mau.]

From: Naqshbandi-Haqqani Sufi Order of America

To: naqshbandi-haqqani@groups.yahoo.com

Sent: Monday, November 7, 2011 7:14 AM

Subject: Suhbat: Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani: at Mina